Sabtu, 26 Mei 2012


Dilema bakwan      


Sudah berjam-jam Erin mondar-mandir didepan meja riasnya, sambil mengerutu. Belum lagi cewek manis itu tak henti-hentinya menggigiti kukunya. Setelah lelah, Erin duduk menatap cermin dengan wajah masam. Bingung memikirkan apakah hari ini dia harus pergi kuliah atau tidak.
“huuuh….. sebeeeeel!!! Kenapa sih sekarang gue harus satu kampus lagi sama dia, huaaaa……. Mama!!!” teriak erin dari kamarnya, yang tentu saja didengar ibunya.
“kenapa lagi dia?” Tanya ayahnya erin pada ibunya yang sedang membaca Koran yang memang sudah menjadi kebiasaan ayahnya sebelum berangkat kerja di ruang makan.
“ yah, paling dia satu sekolah lagi sama siapa itu namanya ya pa, kok mama lupa” ibunya berpikir sambil membuatkan roti untuk ayahnya.
“aril ???!!!” jawab ayahnya sedikit ragu.
“iya, bener aril” ibunya mengangukkan kepalanya menyetujui jawaban ayahnya.
            Dengan perasaan kesal yang sampai keubun-ubun. Dan dengan langkah gontai. Erin menemui kedua orang tuanya di meja makan.
“pagi ma…. Pa…. “ salam Erin pada kedua orang tuanya dengan nada males-malesan. Erin duduk di meja makan sambil berpangku tangan.
“kenapa sayang?? Kok lesu gitu? Ini hari pertama kamu masuk kampuskan?” Tanya ibunya seolah-olah,dia tak mengetahui permaslahan anaknya.
“gak tahu y ma, kenapa Erin harus satu sekolah lagi sama si ariel ” gerutunya.
“yah mungkin udah emank takdir kamu satu sekolah bareng dia”.
“gk bgd ma, sekalipun di dunia ini udah gak ada yang namanya cowok, erin gak bakal mau sama dia!!!!!” dengan nada yang sangat kesal, erin tak menyelesaikan sarapannya malah pergi.
“bye ma…. Pa…..” sambil mencium tangan mama dan papanya sebelum dia pergi kesekolah.
Bersambung.............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar